Syair Jalaludin Rumi
Sabtu, 18 Agustus 2012
0
komentar
Part 1
Seorang penjual sayuran mempunyai seekor burung beo yang pandai sekali
berbicara. ia terkenal duduk di luar warung dan saling bersenda gurau
dengan pembeli. suatu hari, burung beo itu terbang dari tenggernya dan
menumpahkan sebotol minyak mawar yang mahal. ketika pemilik mengetahui
apa yang telah terjadi, ia murka, dan memukul kepala beo itu keras-keras
sampai bulu-bulunya rontok, dan menjadikan kepalanya botak. burung beo
itu sangat terkejut sampai-sampai ia tidak pernah berbicara lagi.
penjual itu sangat sedih dan menyesal sekali ia memohon kepada setiap
sufi yang lewat agar membujuk beo itu untuk berbicara lagi, tetapi tidak
ada yang berhasil. demikianlah, sampai suatau hari, seorang guru yang
berkepala botak datang kewarung itu, dan beo itu menatap dan berkata,
"maaf! apakah engkau juga menumpahkan sebotol minyak mawar, semua orang
tertawa, tetapi berapa banyak di anatar kita juga memproyeksikan
pengalaman kita sendiri pada orang lain, dan benar-benar menyalahpahami
kebenaran?
Part 2
Burung beo memperhatikan bayangannya, menyakini bahwa beo dalam cermin
tengah mengajarinya bagimana berbicara. sesungguhnya, guru bersembunyi
dibelakang cermin. burung beo belajar dengan mudah karena ia diperdaya
untuk berpikir bahwa ia tengah belajar dari salah satu jenisnya. ia tak
tahu tentang orang tua cerdik yang sebenarnya berbicara walaupun ia
telah belajar segalanya dari seorang manusia, burung beo itu tetap tidak
tahu bagaimana rasanya menjadi seorang manusia, dengan cara yang sama,
seorang murid yang egois beranggapan bahwa gurunya sama dengan dirinya.
ia tidak melihat kesadaran unversal bersembunyi dibelakang cermin, yang
mangajarinya melalui manusia yang diyakininya berbicara. ia mempelajari
kata-kata yang diucapkan, tetapi tak tahu sama sekali pembicara
sesungguhnya. bagaimana mungkin ia bisa? ia tetap saja seekor burung
beo, bukan seorang pelaku perjalanan











0 komentar:
Posting Komentar