TANAH SURGA ... KATANYA
Rabu, 29 Agustus 2012
0
komentar
"Bukan
lautan hanya kolam susu katanya/Tapi kata kakekku hanya orang kaya yang minum
susu/Tiada badai tiada topan yang kau temui/ kain dan jala cukup
menghidupimu/Tapi kata kakekku ikannya diambil negara asing/ ikan dan udang
menghampiri dirimu..katanya/Tapi kata kakekku ssh..ada udang di balik
batu/Orang bilang tanah kita tanah surga..katanya/Tapi kata dokter Intel yang
punya surge hanya pejabat-pejabat… "
Sebelum
Ku lanjut.. aku akan bersorak gembira jika puisi dalam film Tanah Surga ....
Katanya . Kau baca pengecut, pecundang kami sudah muak pada sebagian besar dari
kalian..
Sinopsis
Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965
hidup dengan kesendiriannya. Setelah istri tercintanya meninggal, ia
memutuskan untuk tidak menikah dan tinggal bersama anak laki-laki
satu-satunya yang juga menduda Haris dan dua orang anak Haris bernama
Salman dan Salina . Hidup di perbatasan Indonesia Malaysia membuat
persoalan tersendiri, karena masih didominasi oleh keterbelakangan dalam
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat perbatasan harus
berjuang setengah mati untuk mempertahankan hidup mereka....termasuk
keluarga Hasyim, namun kesetiaan dan loyalitasnya pada bangsa dan Negara
membuat Hasyim bertahan tinggal.
Haris anak Hasyim, memilih
hidup di Malaysia karna menurutnya Malaysia jauh lebih memberi harapan
bagi masa depannya. Dia juga bermaksud mengajak seluruh keluarga pindah
ke Malaysia termasuk bapaknya. Astuti, seorang guru sekolah dasar di
kota datang tanpa direncanakannya. Ia mengajar di sekolah yang hampir
rubuh karena setahun tidak berfungsi. Tak lama berselang dr. Anwar,
seorang dokter muda datang ke daerah itu, karena tidak mampu bersaing
sebagai dokter professional di kota. Salman dan Salina gembira hatinya
karna kedatangan guru Astuti dan dr. Anwar, yang oleh penduduk dikenal
dengan sebutan dokter intel.
Diam-diam dr. Anwar menyukai Astuti
Luluhkan hati Hasyim dengan bujukan Haris untuk pindah ke Malayasia?
Bagaimana kisah kasih dr.Anwar dan guru Astuti? Bagaimana nasib Salman
dan Salina yang terpaksa berpisah?
NB :
Hidup di perbatasan Indonesia
Malaysia membuat persoalan tersendiri, karena masih didominasi oleh
keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. ini merupakan bukti
dan gambaran bahwa negara tidak saja gagal menjamin kebutuhan dasar masyarakat,
tapi juga lalai membangun identitas kolektif bernama bangsa di daerah
perbatasan











0 komentar:
Posting Komentar